21
Mar
11

P. Markus Solo SVD: BUNGARAMPAI SERIBU WARNA…

BUNGARAMPAI SERIBU WARNA

Sabtu, 19 Maret, ibarat jendela minggu.

Pesta Santo Yoseph,

Sri Paus Benediktus merayakan Pesta Nama.

Kami para pegawai berlibur.

Sudah sejak mingguan silam

sering kulirik tanggal merah ini di kalenderku,

tergantung penuh rencana di samping komputerku

di Kantor via della Conciliazione.

Ah. senangnya, bisa bernafas legah di akhir pekan.

Maklum dua hari berturut-turut, Sabtu tambah Minggu.

Apalagi Jumad malam kemarin

turut memenuhi undangan Kedutaan Besar Jerman untuk Vatikan

menghadiri Konsert Musim Bunga

bersama 8 penyanyi lelaki muda  dari Jerman,

mantan Sängerknaben di Augsburg,

asuhan saudara kandung Sri Paus.

Jumad malam,

Start mobil menuju Via dei Tre Orologi dekat Villa Borghese,

menyusur Lungo Tevere yang basah kuyup didera hujan deras.

Di radio kudengar lagu-lagu pembebasan Italia,

maklum hari sebelumnya pesta unifikasi negara,

pesta bersambung hingga akhir pekan,

celakanya jalanan penuh kendaraan.

Tiba di Kedutaan Besar Jerman,

masuk “one way” alias “senso unico” tanpa security.

Oh, jalan ini mulus, walau kiri kanan

Kendaraan berplat corps diplomatik berjejeran, pikirku.

Kucoba menelusuri lorong masuk hingga pintu residens,

astaga, taksi dan beberapa kendaraan CD bergerak keluar.

Di belakangku beralun jejer sederetan Mercedes plat biru.

Di tengah-tengah ada diriku dalam Punto Fiat.

Di sini kedesiplinan dan keakuratan mental Jerman diuji,

pikirku sambari bergerak atret hati-hati

takut menyinggung mobil-mobil mewah kiri dan kanan.

Akhirnya berada di jalan umum, boleh cari parkiran dengan bebas.

Hmm.. untuk bebas, perlu bergerak mundur,

dan orang-orang di belakangku mesti turut mundur, pikirku dalam hati.

Satu lagi filsafat hidup kupetik dalam kesempitan.

Sabtu, jendela berharga.

Ah, indahnya cuaca Roma,

seperti menggeser pergi gumpalan gemawan hitam yang mengancam rasa,

jauh ke pinggiran bumi, entah ke mana.

Langit di atas kota cerah ceria,

cuma di pagi dan sore hari

hembusan angin dingin membelai wajah-wajah penduduk Kota Abadi

yang santai duduk meneguk Cappuccino dan Espresso di teras bar-bar kota.

Di depan Tuhan ketika Misa pagi

kuserahkan hari liburanku ke tanganNya

karena sejuta rencana telah terpampang dalam benak.

Dia Maha Bisa, Dia memberi hasil.

Kubuka kamar kerja 191.

Kucoba memulai agenda, satu demi satu.

Keyboard di belakangku seperti memanggilku berpaling.

Ah, kalau begini, kerja tidak berjalan.

Aku hanyut dalam permainan inspirasi.

Jemari bagai melekat di tuts-tuts keyboard

merakit tempo Euro-Arab, Saghira, irish dance,

spanish paso, pop flamenco, tarantella, dll..

Hari berlalu.

Seribu inspirasi ibarat riuh-rendah di benak.

Kucoba menulis.

Susah akur jadi satu.

Karena semua terasa baik.

Ah, berat rasanya berada di hadapan seribu alternatip.

Bisikku dalam hati: Bung, ini bukan soal toleransi.

Ini menyangkut prinsip. Butuh ketegasan.

Sekalipun semua bagus, anda harus memilih.

Dalam pilihan, ada korban, ada opsi.

Na good.. you are right.. kataku pada bung.

Siesta jadi korban,

klub bolakaki kesayanganku bertanding pukul 16.00 di Wina.

Tidak ada siaran langsung. Satelit Italia tidak beri ijin.

terpaksa kuikuti laporan tertulis via internet,

sembari aktualisasi kedudukan per menit.

Pertarungan usai. Kedudukan berimbang 0-0.

Ah, cuma menambah satu nilai, dari 40 ke 41 di atas tabel.

Padahal sepertiga fans memadati stadion,

dan perjuangan lupa diri, tak terpikir entah hidup entah mati.

Iyalah.. perjuangan tidak selamanya membawa hasil.

Itulah hidup. Lagi-lagi bung menepis. Ah, sudahlah.

Di saat pujian senja,

kuserahkan semuanya kembali kepada Sang Pencipta.

Teriring doa,

Semoga jejak-jejak kebijaksanaan tetap

membekas di alam perjuanganku.

Pkl 22.45 acara tinju di bawah bayang-bayang katedral Köln

Vladi Klitschko melawan Solis asal Kuba.

Sudah berhari-hari kutimbun rasa senang menikmati duel bergensi ini,

maklum Klitschko juara kelas berat dunia,

Solis juara olimpiade, baru masuk kelas berat profesional belakangan ini,

berdarah panas

dan nekad merebut sabuk emas dari pinggang Klitschko.

Tepat waktunya kududuk di depan TV RTL Jerman.

Animasi perang dua kubu dan teriakan moderator

membuat suasana kian seram.

Sasana dipadati pengunjung, jelata dan elit.

Sungguh-sungguh menyulut rasa dan emosi.

Apalagi kedua partai sudah saling mengancam lewat media.

Gong perang berkecanang.

Ronde pertama dibuka. Konsentrasiku tak terbagi.

Lontaran serangan jep-jep ringan Solis seperti menjanjikan,

satu menit berlalu. Klitschko rada pasip.

Persis melewati menit kedua,

Klitschko cuma mengayun ”Eisen-Faust” membentur pelipis atas Solis.

Cuma satu kali pukulan itu. Solis terkapar di lantai.

Wasit Mexiko memberi tanda henti.

Astaga…

tinju yang kunanti berhari-hari telah usai.

Cuma dua menit…

Saya dan jutaan penonton kecewa.

Merebut sebuah kemenangan adalah idaman semua orang.

Tapi ada banyak faktor “X” turut bermain.

Kadang bisa betahan hingga akhir.

Kadang harus menyerah awal-awal.

Tapi kalau jujur,

kembali pada sikap realistis

untuk menakar situasi sebelum maju…

Kini kumendarat di Minggu pagi…

Hari panjang menungguku di sini.

Bon voyage…. Gute Reise.

Roma, 20 Maret 2011

P. Markus Solo SVD



2 Responses to “P. Markus Solo SVD: BUNGARAMPAI SERIBU WARNA…”


  1. September 18, 2011 at 6:53 pm

    Tulisan yang bagus Pater Markus

    Deskripsibyang lengkap, banyak istilah baru yang menakjubkanku.

    Salam

  2. 2 phileurope
    October 24, 2011 at 11:28 am

    Jumpa lagi Mas Domu,
    senang ketemu di sini.
    Trims untuk apresiasi.
    Sayang kurang waktu untuk update.
    Tapi kadang saya muncul ke sini.
    Salam ke Jakarta

    PM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: