03
Feb
10

Menyegarkan Dialog Antaragama

Mimbar HIDUP:

Menyegarkan Dialog Antaragama

Oleh Steph Tupeng Witin

Setelah kunjungan Presiden Dewan Kepausan Dialog Antaragama Vatikan, Kardinal Jean-Louis Tauran ke Indonesia, Gereja St. Albertus Kranji dihancurkan sekelompok massa. Kejadian itu menjelang Natal 2009. Apa yang bisa kita refleksikan? Kehadiran Kardinal Tauran dan kejadian di Paroki Kranji merupakan moment tepat untuk menyegarkan dialog antaragama. Inilah saat yang tepat untuk menumbuhkan semangat dialogis dalam relasi antaragama meski dari sisi hukum kita menuntut adanya keadilan. Semangat dialogis itu telah ditunjukkan melalui kehadiran Kardinal Tauran di Indonesia.

Menurut Sekretaris Pribadi Desk Dialog Kristen-Islam Asia, Pater Markus Solo, SVD, di mata dunia bahkan Vatikan, Indonesia merupakan negeri yang sangat menarik karena sangat pluralis dengan jumlah umat Muslim terbesar di dunia. Walau sebagai negara majemuk, semua memiliki sejarah harmoni sangat panjang. Meski berbeda agama, warna kulit, bahasa tetapi semua hidup berdampingan secara damai. Kardinal Tauran mengunjungi Bali (Hindu), memberi kuliah terbuka di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, berdialog dengan Sultan Hamengku Buwono X dan bertemu dengan pemimpin organisasi Islam seperti NU an Muhamadiyah di Jakarta. Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Amin Abdullah melukiskan kunjungan Kardinal sebagai upaya untuk ”memperbesar terbukanya pintu dialog antaragama,” (Kompas, 1/12).

Dialog antargama itu diupayakan agar menjadi dasar praktik kehidupan riil menuju terciptanya ruang hidup yang damai di tataran akar rumput. Di tengah situasi bangsa saat ini yang tidak menentu dalam aspek ekonomi, sosial dan politik, kehadiran utusan Vatikan bagian dialog antargama ini membangkitkan harapan bahwa agama memiliki kekuatan besar untuk meretas hubungan yang harmonis dan konstruktif menuju tercipta atau terjaganya perdamaian sejati. Perdamaian sejati tercipta ketika semua manusia memiliki komitmen yang sama untuk hidup secara toleran, saling menghormati dan bekerja sama. Kardinal Tauran mengingatkan bahwa harapan itu terkandung dalam Pancasila yang disebutnya sebagai gambaran komitmen Indonesia untuk bersatu dalam keberagaman.

Keteladanan

Satu poin yang ditekankan dalam dialog antaragama adalah keteladanan yang terutama diharapkan mengalir dari kehidupan pemimpin dan para cendekiawan agama. Betapa membahagiakan ketika setiap umat beragama menyaksikan para pemimpinnya duduk bersama dalam dialog kekeluargaan. Ketika berbagai perbedaan coba dijembatani melalui keterbukaan mendengarkan satu sama lain dan kerelasediaan untuk menanggalkan egoisme primordial. Rakyat negeri ini juga pasti akan bahagia ketika menyaksikan para pemimpin, entah pemimpin politik, ekonomi, sosial, dan agama saling berangkulan dengan penuh cinta. Keteladanan yang jujur dan tulus akan menjadi energi besar yang menggerakkan seluruh komponen untuk menyatukan segenap kekuatan membangun bangsa. Keteladanan ini pun menjadi dasar untuk membangun perdamaian dan bersama-sama meluruskan sejumlah catatan sejarah kelam dalam hubungan antaragama menuju cita-cita ilahi yaitu dihargainya rasa kemanusiaan yang sejati.

Kehidupan yang berlangsung dalam dialog yang jujur akan menginspirasi segenap rakyat untuk membangun masa depan sebagai wujud ikhtiar dan komitmen bersama sejak republik ini didirikan. Hal ini hanya mungkin ketika nilai-nilai kemanusiaan yang mengalir dari dinding-dinding rumah ibadah, keteladanan para pemimpin dan hasil dialog antaragama terejawantah dalam kehidupan sehari-hari yang nyata. Rakyat yang beriman akan memandang sesama sebagai bagian dari dirinya. Rasa kemanusiaan yang berakar dalam iman akan menginspirasi setiap sesama yang dijumpai di mana saja sebagai sahabat yang mesti dicintai, dibela dan dirawat.

Peran Pendidikan

Apa yang perlu kita perhatikan bersama sebagai bangsa di balik tema besar dialog antaragama ini? Pertama, dialog adalah sebuah kebutuhan yang penting untuk bangsa kita yang plural. Kedua, pendidikan yang baik pada sebuah bangsa yang plural seperti Indonesia akan menghadirkan suasana dialog yang jujur dan kondusif. Ketiga, dialog harus dimulai saat ini juga, tidak menunggu ketika terjadi konflik.

Dari ketiga nilai itu, pendidikan adalah medium yang potensial untuk membangun semangat dialog. Hal ini mendesak di tengah merebaknya fenomena pendidikan yang elitis, yang mengandaikan pembagian kelas dalam masyarakat berdasarkan kemampuan intelektual, ekonomi dan sosial. Model elitis ini menugaskan sekolah untuk memilah-milah manusia yang dilukiskan oleh Mangunwijaya sebagai sejenis mekanisme Darwinisme sosial. Menurut Mangunwijaya, pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran tentang multidimensionalitas dan kebhinekaan realitas hidup, menumbuhkan kemampuan dan keberanian untuk berpikir kreatif, bersikap terbuka dan toleran serta kesediaan untuk berdialog (Supratiknya, 2009).

Sekolah-sekolah kita pun mesti menjadi sebuah convivum, tempat hidup bersama, bukan tempat berlangsungnya praktik kompetisi dan lomba pemberian ranking hasil selundupan dunia pabrik dan bisnis yang hanya melembagakan kebanggaan palsu dan derita batin murid. Solidaritas mesti menjiwai dan menginspirasi lembaga-lembaga pendidikan kita. Sekolah-sekolah kita mesti menjadi ruang perjumpaan antarpribadi yang saling mengasihi dan kemitraan yang memekarkan persaudaraan. Tanggungjawab ini menjadi panggilan sejarah bangsa kita yang plural untuk meretas benih-benih dialog sedini mungkin. Benih dialog ini akan menuntun bangsa kita untuk terus belajar menjadi masyarakat yang berkeadaban.

Penulis adalah Alumnus Magister Teologi Kontekstual STFK Ledalero, Mahasiswa Magister Komunikasi (Jurnalistik) IISIP Jakarta.


0 Responses to “Menyegarkan Dialog Antaragama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: