Dirinya tak kuasa menahan rindu pada Dinda. Semalam suntuk dia menulis puisi.
Lagu jiwa untuk Dinda. Boy meminta saya berbicara dengan Dinda.
Mengatakan kepadanya bahwa Boy tengah menulis puisi.
Aku bangun dari kursi tua, melangkah di balik empat sisi dinding kamarku,
Kuberlaga seolah-olah Dinda mendengarkan daku. Lalu kuceritakan kepadanya kata-kata ini:
Dinda,
suara jiwa kekasihmu membahana, menggoda sukma nan teduh. Puisinya merebahkan tirai gulana jiwa Dinda, tatkala kaki-kakinya dingin dan pucat dicumbu rindu merangkak di wajah tembok malam, merangkul bayanganmu, pelipur kelana panjang sejak jumpa pertama di persimpangan itu.
Bermimpilah tentang dia, Dinda, selagi remang-remang malam berjaga di ujung selimut sutra dan rembulan purnama enggan jumpa sang surya.
Bangunlah Dinda, dengarkah kau lantunan puisinya yang kian melengking ibarat bulu perindu di di tengah sahara, hingga terik rindunya mengalir di titik-titik peluh, sementara detak jantungnya perih durjana dipanah asmara…
0 Responses to “PUISI- SUARA KEKASIH – GEDICHTE- STIMME DES GELIEBTEN”